HATI

Apa yang kau harapkan dari sebuah hati? Apa pula hati? Bagaimana bisa menyelami hati? Apa yang harus dihati-hatikan dari sebuah hati? . Segumpal pertanyaan singgah, bila dirasakan ada amukan sesak yang mulai sedikit-sedikit menyeruak. Pesanku sederhana, camkan dalam hati, agar tidak salah dalam melangkah.

Hati mengelabui. Jiwa bisa merana karenanya. Memperbolehkan hati untuk mencinta, adalah sebuah kesalahan manis yang kadang bisa membawa penyesalan, namun tak jarang membawa bahagia. . Kembali kepada sebuah pengorbanan. Takkala hati sudah berbicara. Perasaan terasa sebagai dayang-dayang yang mengikuti dengan kipas yang mengipasi keraguan. Mencinta adalah melepaskan. Melepaskan belum tentu mencinta.

Cintaku berjalan seperti air. Mengalir ke muara untuk mencari dewa penguasa laut. Mungkin bersemayam. Mungkin akan berputar di 3 samudra. Atau membeku di antartika. Namun cinta bukan air. Kadang dia menolak untuk menjadi arus. Kadang dia justru melawan arus. Dan cintaku terkadang terpuruk dalam salah sangkah. . Dan janji bisa menjadi air yang memadamkan api. Api yang sudah tersulut. Mulai dari Yunani, keliling dunia. Untuk sampai ke Beijing dalam rangka menyemarakkan semangat olimpeade Cina 2008. Begitukah cinta? . Saat janji janji yang terlontar kemudian seperti air yang memadamkan api? . Atau seperti nama yang terus keluar dari Piala Api, saat ke tiga juara sekolah sihir sudah dimuntahkan. Dan, api masih saja hijau, walau terkadang kebiruan dan kadang merah.

Jangan sembarangan berjanji. Kalau tak yakin bisa memenuhinya. Karena janji bisa sebau kentut. Angin busuk dari perut yang memualkan siapa saja. Dan janji yang terbengkalai adalah sampah. Siapa yang mau sampah? Walau banyak yang berharap banyak dari janji?

Apa wacana hari ini? Apa alasan yang bisa diciptakan lagi untuk menyamarkan janji? Sadarkah setiap alasan adalah kentut-kentut baru yang semakin lama semakin mengotori udara? . Dan hati bisa semakin mengeras bila terus dihembusi dengan kentut-kentut janji yang tak kunjung ditepati. Bau busuk. Tak berdaya. Beralasan terus. Satu kebohongan menutupi kebohongan yang lain begitu terus menerus, sampai kepala akhirnya harus membentur dinding. Pecah…. berdarah…. dengan otak berceceran. Dan jiwa yang melayang merana.

Cinta berakhir karena sebuah janji? Apakah tak ada pengampunan? Seperti pertobatan atau pemutihan? . Sayangnya hati bukan Yayasan atau Lembaga atau Agama. Tak ada penawaran yang ditawarkan hati. Toleransi mungkin ada. Namun tetap terbatas dan mereka menyebutnya kesabaran.

Hati-hati memperlakukan hati. Hati tak suka dibohongi. Diperkosa. Dibiarkan merana. Hati juga ingin dipercayai. Bukan untuk dicurigai. Atau ditanyakan ‘kau sebenarnya siapa?’ . Dan hati bisa berbalik membenci. Bisa dusta-dusta janji sudah lebih bising dari pada suara roda besi yang beradu dengan besi pada rel kereta api. Memekakkan. Memuakkan.

Hati tidak memandang status. Merk atau prestise. Bahagia yang kuharap. Bukan kentut bau yang mengaku punya siapa saja tidak berani.

Ksatria Yudistira menyerahkan tahta serta istri Pandawa hanya karena memenuhi janji. Jangan berjanji atau bertanya atau menawarkan diri bila tidak bisa seperti Yudistira. Karena konsekuensinya adalah hati. . Tak ada kejujuran murni. Bahkan kepada istri dan anak saja tidak bisa jujur. Lalu mengapa harus memaksakan jujur pada hati? Hati punya toleransi. Tapi hati juga egois dan gampang tersakiti.

Namun hati tak bisa dibohongi. CInta dan sayang, hati yang tahu. Bukan mulut atau mata yang merasa. Tapi hati yang merangkulnya. Lalu, bagaimana bisa kau mengelabui hati, mungkar dari janji dan sejuta alasan seperti kentut terhembus membuat hati mengeras seperti hepatities?

Camkan dengan telunjuk. tusuk dan ungkit sedikit ke atas sebatas jari. Jangan kasar, karena hati bisa tersakiti. Hati-hati sekali lagi.

Hati-hati.


Leave a Reply